Minggu, 14 Oktober 2012

KAMU (part 1)

Malam ini hujan turun rintik-rintik membasahi kota Lumpia. Lawang sewu dan tugu muda yang ada ditengah kota itu semakin menegaskan perjuangan rakyat Indonesia dikota ini. Semarang.
Awan hitam perlahan menutupi langit biru. Burung kecil yang tadi berada diatas pohon yg berjejer rapi dipinggir jalan itu pun menghilang, mencari perlindungan. Orang-orang yang sedang berada diluar tak mau tinggal diam. Mereka juga berlari-lari mencari tempat berteduh. Aku sendiri berdiri mematung didepan salah satu minimarket.
Lampu-lampu jalan terang benderang menerangi jalanan yang penuh sesak kendaraan roda empat. Bunyi klakson saling bersahutan dengan derasnya air hujan yang jatuh dijalan itu.

Aku mendesah pelan menatap air dari langit yang mengalir semakin deras. Sampai kapan akan terus hujan? Aku harus segera pergi menemui seseorang yang sudah lama menungguku disalah satu taman.
Ah, hujan ini menghalangi semua pertemuan yang telah kami rencanakan. Mungkin dia juga tidak akan datang ketempat itu saat hujan seperti ini.
Aku merogoh saku celanaku, mencoba mencari handphone.
Dan sialnya handphoneku tak ada disana. Raut wajahku semakin muram. Dalam hati aku mengomel tanpa arah.
Hujan, kenapa kau datang disaat yang tidak tepat? Aku baru saja berbaikan dengannya. Kenapa kau harus merusak malam minggu ku ini? Hatiku menangis, aku merasa ini sangat tidak adil.
Aku melirik jam tangan yang ku kenakan. Jam setengah 8. Apa mungkin dia akan datang saat hujan turun sangat deras seperti ini. Bahkan aku saja sudah berdiri didepan minimarket ini selama satu jam.
Aku terduduk lemas, kantong belanjaan yang ku genggam, ku letakkan dilantai.

Akhirnya hujan berhenti tepat pukul 9 malam. Aku sedikit kelelahan berdiri selama beberapa jam. Kakiku pegal-pegal. Ku langkahkan kakiku keluar minimarket. Langit masih tetap gelap. Aku segera mempercepat gerakan kakiku. Pikiranku menerawang entah kemana. Aku masih memikirkan bagaimana nasibnya. Apa dia akan nekat menungguku ditaman itu? Semakin resah perasaanku.
Aku berfikir keras selama perjalanan menuju rumah. Apa sebaiknya aku langsung saja menyusulnya?

Setengah jam kemudian aku sudah berdiri disebuah taman yang cukup luas. Taman yang berukuran 100 meter itu tertata cukup rapi. Taman ini terlihat dingin, disekelilingnya banyak pohon yang menemani. Ditengah taman terdapat sebuah lingkaran air mancur yang sangat indah. Tapi saat itu air yang ada disana sangat keruh, mungkin karna hujan tadi.
Aku menatap sedih ketengah air mancur itu. Aku berjalan perlahan menghampirinya. Tiba-tiba saja aku melihat sesosok pria yang sedang duduk lemas dengan kondisi tubuh yang basah kuyup. Aku berlari kearahnya. Aku tahu siapa dia.

"ALVAAAA" aku berteriak memanggil nama pria itu.
Dia tersenyum melihatku. Senyum yang sangat indah. Bahkan selama kami berpacaran 3 tahun ini, aku baru sekali ini melihat senyumnya itu. Aku menangis memeluknya. Tubuhnya dingin. Bibirnya membiru. Seluruh tubuhnya menggigil. Pakaian yang dikenakan juga basah kuyup.

"Kamu ngapain disini?" tanyaku pelan sambil terus memeluknya. Aku mencoba menghangatkan tubuhnya.

"Aku nungguin kamu. Aku yakin kalo kamu pasti datang. Aria ku pasti datang." suara nya terdengar pelan.

" Aku dateng va. Aria dateng buat nemuin Alva. Aria gak mungkin lupa sama Alva."

"Aria.." dia melepaskan pelukanku dan mencoba menyeka air mata yang terus jatuh dipipiku.

"Kenapa va? Kamu gak mau dipeluk sama aku? kamu gak kedinginan? aku gak mau kamu kedinginan. Aku gak mau kamu kenapa-kenapa. Kamu suka seenaknya sendiri, aku gak suka!." tiba-tiba saja nada bicaraku meninggi.
Alva hanya tersenyum melihatku mengomel. Dia menggenggam kedua tanganku dan berkata lembut.

"Aria, aku sudah berjanji untuk tidak menyakitimu lagi. Bukan kamu yang seharusnya menjagaku, tapi aku yang harus menjagamu. Sudah terlalu sering aku menyakitimu. Bahkan aku sendiri tidak habis pikir kenapa aku bisa melakukan semua perbuatan jahat itu."

Tiba-tiba saja aku kembali menerawang ke kejadian sebulan yang lalu. Kejadian yang membuatku sangat marah dan kecewa. Tapi entah kenapa aku masih mau memaafkan & menerimanya lagi. Bahkan untuk bersamanya lagi seperti sedia kala.

-----------

1 komentar:

  1. beruntung bgt hjn turun,,,,hahaha kalo gk ada hjn ,,,,critanya gak jd romantis gini :P

    #kisah nyata kah? ndi hihihi

    BalasHapus

Abis blogwalking? Jangan lupa ninggalin jejak disini. Mari berbagi opini dan ilmu di comment box.
Semoga bermanfaat bagi yang membaca~ Salam kenal yaa :D

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...