Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Desember 2015

Is it Karma? - part 2


Rahasia apa lagi yang akan kusimpan? Bersama dengannya saja membuatku tak nyaman. Secepatnya aku harus mengakhiri hubungan yang entah aku sendiri tak merasa bahagia.

"Kamu ngelamunin apa, sih?" 

"Eh, eenngg, anu, istirahatnya udah mau selesai." Kujawab pertanyaannya tanpa memcerna terlebih dahulu apa yang ditanyakan.

"Iya, aku tau kok.."

Kami terdiam selama 1 menit. Jangankan 1 menit, 30 detik saja sudah terasa lama buatku. Kenapa sih dia harus selalu datang ke kelasku saat istirahat? Mengganggu.

"Yaudah, aku balik ke kelas dulu ya. Nanti pulang sekolah ku tungguin di depan gerbang."

Kupaksakan senyumku mengembang dan mengangguk pelan sambil menatapnya hingga menghilang dari balik pintu kelas.

Senin, 05 Oktober 2015

Is it Karma? - Part 1


Bel sekolah berbunyi.
Semua berlarian keluar kelas. Ada yang menuju kantin, perpus, bahkan bermain bola di lapangan. Sedangkan aku? Hanya duduk menatap keluar jendela kelas dan memilih untuk istirahat diatas meja. Sembari menikmati angin semilir yang menembus celah jendela, suara bising teman-teman yang asik bercerita, kuterlelap.

"Tera mana?" seorang laki-laki dengan gayanya yang sok cool datang menghampiri ruang kelas.

"Biasa, Kak. Tuh lagi tidur." Dita menjawab sambil menatapku yang sedang tertidur.

Laki-laki itu menghampiriku, menatapku sebentar, kemudian membangunkanku dengan halus.

"Tera bangun, makan siang dulu gih. Nanti laper loh", katanya pelan.
Dan aku pun masih terlelap, tak menyadari keberadaannya.

Senin, 15 Juli 2013

Good bye, Summer!

"Aku butuh waktu sendiri. Aku benar-benar nggak tahu apa yang harus kita bahas."

"Tapi kamu selalu menghindariku, apa ada yang salah denganku?"

"Entahlah."

Wajah letihmu yang tampak gusar membuatku bertanya-tanya. Penuh dengan rasa penasaran. Tapi seperti biasa, aku menahan segala emosi dan ego, membiarkanmu berlalu tanpa sedikit pun menoleh ke arahku.

3 hari tanpa saling memberi kabar, akhirnya aku memutuskan untuk menemuimu kembali. Menyempatkan sedikit waktu untuk bertemu kembali ditengah rutinitas yang padat, yang kita jalani di tempat berbeda. Karena ini musim panas, aku pikir pantai adalah tempat yang tepat untuk bertemu. Selain itu, sepertinya ini adalah bulan terakhir di musim panas.

Sabtu, 06 April 2013

Tulis dan Negara Kertas


Dahulu kala di sebuah negara bernama Kertas, hiduplah seorang gadis cantik bernama Tulis. Setiap hari pekerjaan Tulis hanya bermain dan mengganggu pekerjaan orang lain. Disaat teman-temannya pergi ke sekolah, ia malah sibuk menggoreskan tinta diatas pakaiannya.

“Tulis, pakaianmu jangan di coret-coret, kalau kotor nanti tidak sedap dipandang apalagi dipakai.” Kata ibunya menasehati.

“Ah, biar saja. Aku suka.”

“Pergilah ke sekolah, Nak.”

Minggu, 17 Maret 2013

Love Life [1]


Lampu jalan menerangi setiap sudut kota ini. Kendaraan berlalu lalang dengan santainya. Sesekali terdengar bunyi klakson mobil dan motor yang terlihat tidak sabar. Traffic light yang berwarna warni menambah ramainya sinar. Zebra cross tak pernah sepi dari pejalan kaki. Bulan yang sedari tadi bersembunyi pun akhirnya keluar bersama bintang, ikut menerangi kota.

Rabu, 26 Desember 2012

Preview my "COFFEE TEA LOVE" :*


..................

Aku menceritakan semua kejadian yang ku alami kemarin bersama Vino. Juga beberapa kenangan manis dan pahit yang dulu sempat kami jalani. Cukup lega sih setelah membicarakan semuanya dengan Coffee. Meskipun aku tidak tahu siapa dia, tapi kata-katanya membuatku merasa tenang. Seperti seorang yang bijaksana, mengajariku bagaimana menjalani hidup dengan senyum yang tulus.

 “Kesabaran itu tidak berbatas. Hanya saja pada akhirnya keikhlasan lah yang membuat sabar terlihat tak berarti. Memaafkan juga bukan hal buruk. Sebaik-baiknya hati yang tulus adalah mau menerima kesalahan orang yang pernah ada dalam kepingan masa lalu dan memberinya ruang untuk menjadi lebih baik meskipun bukan dengan kita.” -COFFEE-

..................

Minggu, 09 Desember 2012

Diary 8 hari

13 Februari 2012
Dear Diary,
Aku mulai mengisi kekosonganmu kembali. Membuatnya penuh goresan-goresan hatiku. Sebenarnya aku enggan membukamu kembali, tapi entah mengapa, hari ini aku sangat ingin membukanya. Aku lelah berpura-pura menjadi orang lain, aku lelah menjadi orang yang sabar.
Penyakitku ini mungkin akan segera membunuhku. Jadi, aku harus meninggalkan sedikit jejak disini. Sehingga semua orang yang menyayangiku tidak bersedih karna kepergianku.

Kamis, 15 November 2012

KAMU (part 2)

next part of KAMU (part 1)
-----------------------------
<setahun yang lalu>

Semangat matahari siang ini terlalu berlebihan. Aku yang baru saja menyelesaikan kuliahku rasanya malas untuk segera pulang. Panas yang menyengat membuat kepalaku terasa pening. Aku ingin sebentar saja menunggu agak sore. Mungkin panasnya akan berkurang jika aku menunggu sebentar lagi. Dengan langkah gontai, aku menuju kantin kampus, membeli soft drink dan membaca novel yang baru saja ku beli.
Sesekali aku perhatikan rumput yang tersebar dalam pandanganku. Ah, mengering karna teriknya matahari.

Minggu, 14 Oktober 2012

KAMU (part 1)

Malam ini hujan turun rintik-rintik membasahi kota Lumpia. Lawang sewu dan tugu muda yang ada ditengah kota itu semakin menegaskan perjuangan rakyat Indonesia dikota ini. Semarang.
Awan hitam perlahan menutupi langit biru. Burung kecil yang tadi berada diatas pohon yg berjejer rapi dipinggir jalan itu pun menghilang, mencari perlindungan. Orang-orang yang sedang berada diluar tak mau tinggal diam. Mereka juga berlari-lari mencari tempat berteduh. Aku sendiri berdiri mematung didepan salah satu minimarket.

Sabtu, 03 Maret 2012

Rain at the midnight [added story]

2 tahun berlalu sejak kejadian itu.

Usai pengumuman kelulusan, aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah diluar kota.
Meninggalkan semua kenangan yang ada di kota kelahiranku dan memulai yang baru disini.
Ku bergegas mengambil tas dan melangkah cepat menuju kampus.

Kamis, 03 November 2011

Nekat *additional story*

Ternyata oh ternyata dari pengalaman gue sama temen-temen itu terselip beberapa ketidaktahuan yang membuat kami tertawa merinding.

Nekat *part 3*

Karna bosan menunggu kedua temannya yang ga balik-balik, dia mulai berteriak memanggil kedua temannya itu.
Namun secara langsung dia di kagetkan dengan seikat pocong. Dia lari ketakutan hingga akhirnya bertemu lagi dengan teman-temannya.
Dia kaget saat melihat kedua temannya yang tadi bersama itu sudah bersama rombongan. Dia sempat marah. Tapi salah seorang dari mereka menjelaskan bahwa mereka itu sedang mencarinya karna hanya dia yang terpisah dari rombongan.
Trus siapa dong 2 orang yang dari tadi bersamanya?

Nekat *part 2*

Acara RKT yang di adain itu khusus buat aktivis di Fakultas gue doang.
Gue ga ngerti kenapa harus pake acara nginep segala.
Tapi sebagai aktivis baru, gue mesti ngikutin aturan yang ada.

Nekat *part 1*

Nekat *part 1*
Ini pengalaman pertama gue yang paling ekstrim.
Sumpah, ini bener-bener buat gue deg-deg'an.
Gue pikir ini bakal menyenangkan.
Memang menyenangkan, tapi ada sesuatu yang buat gue ngerasa kalo ini di lanjutkan malah bakal jadi cerita yang bikin gue merinding.
Mmm oke, mungkin ini sedikit lebay. Tapi waktu itu yang ada di pikiran gue cuma adegan dalam film "KERAMAT".

Kamis, 27 Oktober 2011

Rain at the midnight [part 3]

Sebentar lagi Ujian Nasional.
Aku harus fokus.
Untung saja masalah Wisma tidak lagi aku pikirkan.
Kejadian itu sudah berlalu sekitar 2 bulanan.

Rabu, 26 Oktober 2011

Rain at the midnight [part 2]

Disebuah kelas yang cukup tenang.
Aku dan Wisma mengerjakan tugas bahasa jerman.
Mmm, lebih tepatnya Wisma yang mengerjakan.
Dia mencoba memecahkan soal yang ada dihadapannya.
Aku hanya diam menatap bangga padanya.

Selasa, 25 Oktober 2011

Rabu, 12 Oktober 2011

Eternal (part 1)

Suasana malam tidak seperti biasanya. Tengah malam ini keadaan begitu ramai. Kicauan burung hantu terus bergema. Gonggongan anjing pun bersahut-sahutan. Cuaca malam itu pun sangat damai. Angin bertiup secukupnya, bulan dan bintang pun muncul bersamaan. Cahaya dari langit menambah keindahan langit malam itu. Dan di bawah pohon beringin yang cukup besar, seorang gadis cantik yang rambutnya terurai panjang sebahu duduk di temani seekor burung hantu putih.

"Owl, gue bingung. Gue mesti kemana ya?" gadis itu berbicara pada seekor burung hantu putih. Dia menatap gadis manis dengan iba, kemudian terbang meninggalkannya.

"hei owl, mau kemana?" gadis itu mengejar owl hingga sampai disebuah rumah sederhana dengan pagar berwarna biru muda. Terdapat taman kecil didepannya. Sebuah pohon bunga bougenville menambah keindahan tamannya. Dengan wajah penasaran, gadis itu mulai memasuki halaman depan rumah tersebut.
Owl pun segera kembali dan bertengger pada pundak gadis itu.

"Ini rumah siapa owl?"
owl berbalik arah dan lagi-lagi terbang, meninggalkan gadis itu sendiri.

Dengan langkah pelan, ia memasuki rumah itu. Rumah yang tidak terlalu besar. Terdapat 3 kamar di dalamnya. Gadis itu mencoba menelusuri setiap ruangan dengan perlahan. Ia berhenti didepan sebuah pintu kamar yang didepannya terdapat gantungan bertuliskan `boy's room`.

"Woow, kamarnya bersih dan rapi banget, ga seperti kamar gue, berantakan." gumam gadis itu sembari memandangi kamar yang baru saja dimasukinya itu.
Dia benar- benar mengamati setiap sudut kamar itu. Rak buku tersusun rapi disebelah kanan tempat tidur yang terletak tepat ditengah ruangan. Ring basket tergantung indah di belakang pintu. Gitar listrik yang terletak dibawah membuat matanya semakin berbinar kagum.

Dan di sana ada seorang pria yang sedang tertidur lelap. Gadis itu memandangi pria yang terlelap dari jarak dekat. Wajahnya sangat familiar. Kulitnya sawo matang, rambutnya acak-acakan--mungkin karena ia sedang tidur. Manis, itu kesan pertama yang didapatnya.

Setelah cukup lama mengamati pria tampan itu, ia terlonjak kaget.

"huwaaaaaaaa, diaaaass. Pergi sana, gue benci lo!" gadis itu berteriak sambil menutup mata dengan kedua tangannya.

Namun tak ada reaksi apa-apa dari pria itu. Suasana tetap hening. Gadis itu berhenti berteriak ketika mengetahui bahwa tak ada satupun yang menyadari keberadaannya. Tenang.
Setelah cukup tenang, gadis itu kembali memandangi kamar pria itu.

"cowok sok cool tapi kamarnya rapi banget. Dan kayaknya lo takut gelap ya. Tidur aja lampu kamar ga di matiin. Hihih." Gadis itu berkata sinis sambil memandang lampu tidur yang menyala begitu terang hingga membuat ruangan tersebut terasa panas.

***

kring kring kring

Bunyi jam weker tepat menunjukkan pukul 06.00
Seorang pria bangun dari tidurnya yang panjang dan segera mematikan wekernya. Ia masih terduduk lesu di tempat tidur. Dengan mata setengah tertutup, ia menoleh ke samping kanan ranjangnya. Sesuatu yang tiba-tiba membuatnya kaget setengah mati. Seorang gadis tidur tepat disebelahnya.

"huaaaaaaaaaaahh, a a a ada hantuuuuu."

pria itu berlari ke dalam kamar mandi sambil terus mengucapkan doa. Tak lama kemudian dia membuka pintu kamar mandi, mencoba mengetahui keadaan yang sebenarnya. Jeng jeng jeng

"Siaaall, halusinasi gue parah banget." katanya setengah bergumam saat tak mendapati seorang pun dikamarnya.

Dia segera mengambil handuk dan menyiapkan seragam sekolahnya. Setelah mandi, tiba-tiba di depan kamar mandi terdapat sesosok gadis yang dilihatnya tadi. Pria itu bertatapan langsung dengan seorang gadis manis dengan rambutnya yang hitam sebahu dan mengenakan seragam olahraga berwarna biru. Wajah gadis itu tampak pucat.

"ha ha haaantuuuu!!"
pria itu berteriak ketakutan dan menutup kedua matanya dengan tangan. Ia jatuh terduduk dipojok pintu kamar. Mimik wajahnya sangat ketakutan.

"Ma.. ma.. maaf, gue ga pernah gangguin lo. Jadi gue mohon jangan ganggu gue." kata pria itu terbata-bata sambil terus menutup matanya.
Bukannya menjauh, gadis itu malah mendekat dan menatap pria itu.

"lo bisa ngeliat gue?" gadis itu bertanya sambil menunjuk dirinya.

Perlahan pria itu mulai memberanikan diri membuka matanya menatap gadis itu. Matanya terbelalak kaget. Gadis setinggi 165 centi itu tersenyum centil padanya. Pipinya yang sedikit tembem dan berlesung itu membuyarkan semua lamunannya. Gadis yang sangat dikenalnya kini berdiri tepat dihadapannya. Tapi bukankah gadis itu sudah meninggal 3 hari yang lalu? Lalu kenapa sekarang dia ada disini? Pikirannya terus berkecamuk mencari-cari jawaban dari pertanyaan itu.

Dengan suaranya yang gemetaran, dia menjawab. "i-i-i-ya"

"Lo tau kan siapa gue?" tanya gadis itu lagi.

"Ve" jawab pria itu singkat.

"yeaaay, akhirnya ada juga yang bisa ngeliat gue. Lo tau ga? Gue itu udah pulang ke rumah, tapi apa? Di rumah yang ada cuma orang-orang cengeng. Nyokap malah nangis ga berhenti-berhenti. Kasihan sih, gue pengen bilang ke nyokap kalo gue tu gapapa, tapi mereka aja ga bisa liat gue. Ya udah sih, daripada gue bingung, gue di anterin sama owl kesini." gadis bernama Ve itu terus bercerita panjang lebar.

"Ya iyalah mereka ga liat. Alam lo kan udah beda sama kita." pria itu bergumam pelan. Ia mulai memberanikan diri berbicara. Menurutnya, gadis itu baik, tidak seram.

"Gitu ya? Jadi kalo gue sama alam itu beda jadi ga keliatan. Eh, alam itu kan yang nyanyi lagu mbah dukun. Lo ngefans ya sama alam? Ya ampun, yas, gue ga nyangka ternyata lo suka sama lagu dangdut."

"heh bego, lo dari dulu ga berubah ya? Masih aja lemot ga jelas. Dan satu lagi, jangan panggil gue 'Yas'. Apaan tuh 'Yas'? Panggil gue adit." pria itu mulai terbiasa dengan kehadiran Ve. Sifat lemot dan gak nyambung yang ada di diri Ve sama sekali gak ilang.

"adit? Kok bisa? Nama lo kan Dias Praditya? Aditnya dari mana?" tanya Ve polos.

"ya Ampuuun, Ve. Lo tu yaaa bikin otak gue mampet. Udah ah, gue mau ganti baju terus berangkat sekolah. Awas lo jangan ngintipin gue."
Ve hanya mencibir dan menutup matanya dengan kedua tangannya. Dengan langkah cepat, Pria itu segera masuk kembali kedalam kamar mandi. Meskipun sudah cukup tenang, pria itu tetap kebingungan menghadapi situasi ini. Sangat aneh, begitu pikirnya.

***

"Eh jelek, gue ikut dong ke sekolah."

"Mau ngapain lo? Udah deh lo di rumah aja. Tungguin gue sampe pulang. Gue masih punya banyak urusan sama lo. Lo diem dikamar gue aja. Inget, jangan ngacak-ngacak kamar gue."

Setelah sepedanya siap, pria itu pergi meninggalkan Ve sendiri.

"Dasaaar jeleeekk!" Ve berteriak ke arah pria itu sambil menjulurkan lidahnya.

----bersambung

Minggu, 10 April 2011

Salah Arti

-"Tak terasa bgtu cpt aq mengenangmu.
Sesingkat itu pula kau renggut hatiku."-

Siang itu rasanya kepalaku ingin meledak...
Bagaimana tidak, tugas kuliahku menumpuk hingga aku pun mulai merasa bosan...
Aaaargh...

Ku menunggu (part 3)

Pagi ini membuat dada ku sesak.
Membuatku ingin menangis.
Ku arahkan pandanganku keluar jendela.
Seorang pria tampan dengan sepedanya tersenyum bahagia.
Apa dia benar-benar bahagia?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...